bisnis online

Kamis, 23 Juli 2009

Evaluasi Mahalnya Produk Wisata

Berikut adalah Ilustrasi atas keluhan masyarakat Kendal atas mahalnya produk Agrowisata Tirto Arum Baru, Kendal, padahal mereka telah merasa ikut membesarkannya dan dikenal seperti sekarang ini.

Adilkah suatu produk wisata mahal bagi warga yang berada di sekitar lokasi obyek wisata tersebut? Jawabannya, menurut saya adalah relatif.

Apakah yang menikmati wisata yang ada di Bali terbesar berasal dari lokal penduduk Bali? Kalau murah tentunya wisatawan lokalah yang banyak menikmati keindahan alam - budaya Bali di hotel berbintang dan cafe2, bukan wisatawan luar daerah Bali atau mancanegara. Bukan begitu?

Yang jelas kegiatan pariwisata di Bali menarik bagi wisatawan mancanegara menimbulkan mutiplayer effects bagi geliat kegiatan ekonomi masyarakat lokal Bali. Terbukanya lowongan kerja, atau menjadi pemasok kebutuhan akomodasi catering, cindera mata, rental kendaraan, hanyalah sebagian kecil dari peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan penduduk lokal dari keberadaan suatu obyek wisata.

Idealnya memang begitu, penduduk lokal dapat bersinergi - menjalin kemitraan dengan obyek wisata lebih hanya sekedar penikmat produk wisata itu sendiri. Di salah satu pihak obyek wisata membutuhkan tenaga kerja, bahan makanan dan iklim "hospitality" dari masyarakat lokal, di pihak lain masyarakat lokal perlu tambahan income untuk memperbaiki keadaan ekonominya.

Belum lagi dampak politisnya, bila obyek wisata itu lebih dikenal daripada daerah tempat obyek wisata berada. Seperti contohnya bagi TKI, ekspat, pelajar indonesia di luar negeri dll, lebih mudah untuk menerangkan kepada orang asing tentang Indonesia bagi mereka yang telah mengenal Bali sebelumnya.

Dengan kebijakan Otonomi Daerah, semua obyek wisata yang dimiliki PemDa maupun Swasta saling berlomba menarik uang dari luar daerah dan berharap menghasilkan multiplayer effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Seperti Jogja dan Solo yang berkembang ekonominya dengan keratonnya, atau Magelang dengan Borobudurnya.

Walaupun begitu, saya yakin masyarakat lokal bila terkoordinir dengan baik, pengelola obyek wisata akan memberikan harga khusus - pengecualian, bagi warga masyarakat dimana obyek wisata itu berada.

Kamis, 16 Juli 2009

"Pleisure" yang versus Bisnis Wisata

Tingkat hunian hotel lebih dari 150% perhari ?!!@# Sebuah fenomena bisnis keberhasilan akomodasi penginapan di kawasan wisata berhawa dingin di daerah bandungan Kabupaten Semarang.


Berhasil ??? Relatif. Itulah hasil studi banding kita ketika kami dari PHRI

Rabu, 27 Mei 2009

Flying Fox - Primadona Outbound


Kini hampir semua obyek wisata outbound hampir memiliki Flying Fox (Rubah Terbang) yaitu permainan meluncur - terbang melayang, seperti layaknya pahlawan lagendaris Zoro atau Superman pada sebuah kawat baja. Keberadaan Flying Fox boleh dikatakan hampir bisa diidentikan dengan outbound.

Ketika Tirto Arum Baru, Kendal memulai untuk pertama kalinya di tahun 2004 di Jawa Tengah (pemasangan perangkat flying fox secara permanen) , jenis permainan ini banyak menarik minat banyak pengunjung. Peliputan pemberitaan media masa ketika itu ikut andil dalam memasarkan Flying Fox di Tirto Arum Baru. "Click Berita terkait!"

Dalam Bisnis Agrowisata, copy paste (mengadopsi) suatu wahana permainanan yang berprospek sering terjadi. Seperti halnya sukses Jalan Pijat Refleksi yang dibangun tahun 1999 di Tirto Arum banyak ditiru obyek wisata lainnya.

Namun amat disayangkan, dalam mengadopsi wahana dan permainan baru, strategi untuk membuat nilai tambah dan unik sering dilupakan - "Tidak hanya hadir dan sebagai pelengkap yang sudah ada"

Begitu pula Flying Fox. Sedari awal Flying Fox di Tirto Arum tahun 2004 dibuat unik dan bernilai tambah yaitu dengan titik start dari atas "Pohon Kelapa" dan terbang melayang di atas sungai buatan. Andrenalin akan terpacu saat naik ke atas pohon kelapa dengan tangga pancal dan mencapai bordes start di atas pohon kelapa.

Di Umbul Sidomukti lain lagi. Nilai tambah flying fox di Umbul Sidomukti, Gunung Ungaran ialah lintasan di ketinggian 75 meter, diatas jurang yang menjadi flying fox tertinggi di Jawa Tengah. Tentunya keunikan tersebut harus dibuat sesuai dengan karakteristik lansdcape, utamanya segmen pasar yang dituju: anak2, remaja, dewasa atau orang tua.

Lain lagi dengan Flying Fox di Owabong, Purbalingga. Akhir finish Flying Fox di Owabong berada di kolam renang dengan pemberhentian menabrak bantalan plampung. Dengan sedikit nekat kita bisa merasakan sensasi mendarat dengan posisi kepala di dalam air dalam keadaan badan terbalik.

Mengadopsi wahana/ permainan dengan nilai tambah dan unik adalah bernilai positif, apalagi membuat sesuatu yang baru. Seperti Umbul Sidomukti, setelah membangun 1.Kolam Renang Buatan tertinggi dari permukan laut se-Indonesia, 2.Lintasan Flying Fox dan Marine Brigde diatas jurang dengan ketinggian 75 m, 3.Kini tengah berencana membuat Boongie Jumping dengan ketinggian yang sama.

Jumat, 01 Mei 2009

Bisnis Agrowisata versus Rokok

Mungkin kalau PERDA larangan merokok diberlakukan di tempat-tempat umum dengan tegas diberlakukan, orang pertama yang takut masuk ke Indonesia adalah orang berkebangsaan "Maroko". Pasalnya banyak pengumuman DILARANG MAROKO" – "DILARANG MAROKO” ada dimana-mana.

Jauh sebelum Fatwa MUI 2009 tentang “Merokok itu Haram”, 1999 ketika peralihan manajemen di Tirto Arum, peraturan larangan merokok sudah diberlakukan baik untuk karyawan lama maupun dalam seleksi penerimaan karyawan baru. Hal tersebut beralasan karena tema Bisnis Agrowisata yang mengusung pendidikan dan hidup sehat dengan back to naturenya sangatlah bertolak belakang dengan kebiasaan merokok.

Bayangkan bila anak anda ketika sedang menunggu antrean flying fox melihat operatornya bekerja sambil merokok. Atau pramusaji di restaurant merokok di jam istirahat mereka. Walaupun ayah si anak mungkin perokok dan tidak menginginkan anaknya jadi perokok, dengan melihat pekerja agrowisata merokok si anak akan berpendapat merokok itu tidak seberbahayanya seperti kampanye anti rokok yang ia sering dengar.

Rokok pernah menjadi soulmate saya puluhan tahun. Saya akui sulit menghentikan kebiasaan merokok dan saya dapat berargumen mati-matian pada siapa saja yang menghentikan kebiasaan saya merokok.

Akibatnya banyak dari karyawan saya saat interview mengaku tidak merokok, ternyata mereka kedapatan merokok. Untuk kasus tersebut, saya berlakukan sistem "denda" bagi siapa saja yang ketahuan merokok dan yang tahu tapi tidak melaporkannya. Sebaliknya bagi karyawan/ istri/ anak yang melaporkan dapat bagian dari denda tersebut, dan sisanya dimasukkan dalam kas kesejahteraan karyawan.

Bagi saya perokok merupakan pahlawan karena: 1. Mengorbankan kesehatan dirinya untuk orang lain dengan memberikan kontribusinya ke negara dari sektor pajak, 2. Memperluas tenaga kerja dalam industri rokok dan perkebunan tembakau.

Merokok adalah hak setiap orang, rokok dijual di Tirto Arum, tetapi tidak untuk karyawan Tirto Arum karena karyawan di Tirto Arum adalah aset perusahaan. Bukan saja perusahan akan rugi kalau karyawannya sakit tetapi juga budget untuk membeli rokok akan amat sangat-sangat berguna bila dipakai untuk kesejahteraan mereka sendiri.

Jumat, 17 April 2009

Asosiasi Profesi - Kunci Inggris Sukses Bisnis Agrowisata

Click gambar diatas!!
Tanpa maksud & tujuan tertentu, gambar dengan linknya diatas hanya sebagi ilustrasi manfaat bisnis wisata bila kita bergabung dengan asosiasi. Pemberitaan yang juga diliput oleh Seputar Indonesianya RCTI dan beberapa surat kabar lainnya tersebut memberikan gambaran bahwa dengan bergabung kita dapat lebih kuat menyuarakan aspirasi para pengusaha bisnis wisata.

Kalau begini saya jadi tersenyum, bila ada kawan yang terlambat, apalagi tidak hadir karena alasan sibuk dsb bila ada rapat asosiasi. Apalagi tidak menjadi anggota. Menjadi anggota Asosiasi Agro Indonesia (AWAI), Perhimpunan Hotel dan Restaurant (PHRI), Paguyuban Pelaku Wisata (PPW) dsb yang dirasakan sangat besar manfaatnya bagi Tirto Arum.

Kenapa tidak, dengan bergabungnya kita dengan asosiasi bisnis wisata selain dapat menambah wawasan bagi kemajuan bisnis, juga sebagai wadah untuk menjalin kemitraan dengan pemerintah. Win to Win, Pengusaha bisnis wisata mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah begitu pula pemerintah diuntungkan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Melalui wadah asosiasi profesi kita dapat memberi aspirasi di saat pemerintah menentukan suatu kebijakan menyangkut berbagai masalah terkait dalam bisnis wisata misalnya penyusunan rencana induk pariwisata, masalah perpajakan, perizinan, dsb.

Melalui asosiasi pula kita dapat membangun jejaring bisnis wisata. Bukankah setiap obyek wisata mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga memungkinkan untuk dapat disatukan menjadi paket wisata One Day Tour?!

"Pameran Bersama" adalah salah satu bentuk kerjasama untuk memajukan sektor kepariwisataan dalam skup daerah yang lebih luas semisal Jawa - Tengah. Bila kemitraan Pemerintah dan Pengusaha Bisnis Wisata telah erat, bukan tidak mungkin peningkatan SDM dan kegiatan promosi kepariwisataan dijadikan program kerja pemerintah untuk dapat difasilitasi.

Minggu, 12 April 2009

Joglo Hill - Bisnis Penyewaan Rumah Joglo

Inovasi wisata yang ditawarkan Villa Joglo Hill patut diancungi jempol. Tak lain karena disaat pengembang wisata berlomba menjadi number 1 (One) di permainan wahana air, Joglo Hill menawarkan produk yang berbeda dan target konsumen berbeda pula.

Menginap di Rumah traditional yang sudah berumur ratusan tahun adalah produk primadona Joglo Hills. Berawal dari sekedar hobby Ibu Heny, pemilik Agrowisata Villa Joglo Hill, mempunyai ide untuk menyewakan propertinya bagi turis asing yang haus tentang pengalaman budaya etnik.

Joglo Hill, didukung dengan landscape daerah persawahan dan jalan lingkungan yang bukan hanya tertata apik tetapi juga mempunyai "Nilai Tambah" karena disamping kiri-kanan jalan lingkungannya terdapat artifak kuno.

Keberadaan kolam renang, musium keramik dan bangunan fasiltas dibuat sedemikian rupa agar tampak menyatu dengan tema nuansa kehidupan masa lalu dari Joglo Hill. Pemerintah cukup diuntungkan dengan adanya pihak swasta yang memelihara kekayaan warisan budaya ini.

Umbul Sidomukti

Menemukan potensi untuk diolah dan dikelola sehingga mempunyai nilai tambah yang menjadi keunggulan karena keunikan/ karakteristiknya merupakan bagian dari kunci keberhasilan sebuah bisnis agrowisata. Pembangunan Umbul Sidomukti yang berada di Gunung Ungaran adalah salah satunya.

Pusat aktifitas Umbul Sidomukti dan fasilitasnya ditempatkan di lokasi yang mampu menggelar pemandangan yang mempesonakan. Dalam pembangunanya, perbedaan elevasi tanah dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan tersebut.

Keberadaan Kolam renang buatan dengan dari air alamnya di Umbul Sidomukti bernilai strategis karena akan menjadi yang tertinggi di Indonesia.Ide pembangunan kolam renang itu sendiri didasarkan pada banyaknya air alam yang mengalir. Cukup banyaknya sehingga dapat dikumpulkan lalu dikeluarkan kembali untuk menjadi maskot Umbul Sidomukti. Untuk membuatnya lebih alami, kolam renang di Umbul Sidomukti, dinding kolamnya dibuat dari bebatuan alam.

Sering terjadi dan merupakan kesalahan yang sering dilakukan para pengusaha pengembang obyek wisata melakukan copy-paste jenis wahana atau permainan yang sukses di obyek wisata lain. Padahal jenis wahana atau permainan itu belum tentu cocok dikembangkan di daerah tersebut.

Rekor Muri & Strategi Marketing Wisata

Pencapaian "Rekor Muri" di Bidang Penyelenggaraan Pendukung Outbound dengan Jumlah Kegiatan Terbanyak, “Dji Samsu Award” sebagai 234 UKM terseleksi versi Perusahaan Rokok Dji Samsu dan Koran Tempo dan kenaikan peringkat “Piring Emas” atas Layanan Restonya dari Dinas Pariwisata Prov. JATENG pada tahun 2007 merupakan prestasi bagi Agrowisata Tirto Arum Baru yang berlokasi di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Pencapaian tersebut bukan tanpa upaya. Usaha marketing sudah diupayakan sejak manajemen baru mengambil alih pengelolaan di tahun 1999. Yakni dengan menambah brand “Baru” terhadap Tirto Arum, mampu merubah image masyarakat bahwa Tirto Arum yang dulu sudah sama sekali berubah.

Di lahan yang hanya 3 ha, manajemen baru berusaha dapat mengoptimalkan setiap jengkal tanahnya produktif dan menghasilkan pendapatan. Berbeda dengan obyek wisata yang muncul dan langsung mencurahkan segala ide dan modalnya, Tirto Arum muncul dengan mencicil ide2nya dan mengakomodir perubahan market demand seiring perjalanan waktu.

"Mencicil ide dan Market Demand adalah sebuah strategi marketing". Bayangkan jika sebuah Fabrikan Mobil Toyota mengeluarkan model terakhir yang dapat bertahan 10 tahun. Awalnya memang penjualan meningkat, tapi kemudian mereka akan bosan dan berakibat penurunan penjualan. Lain halnya bila perubahan pada model dilakukan bertahap misalnya tahun 1 pada model lampu, tahun ke 2 pada dashboard, tahun ke tiga pada mesin dan seterusnya.

Maka tidak heran banyak kita temui obyek wisata yang ramai pada awalnya tapi sepi ditahun-tahun berikutnya karena wisatawan bosan tidak ada pembaharuan wahana permainan/ fasilitas baru. Di kasus ini pihak Pengelolapun tidak berinovasi karena sudah kehabisan ide dan napas (modal) akibat terlalu bersemangat.


Bisnis Wisata bukan Franchise

Bisnis Wisata tepatnya bisnis agrowisata bukan seperti franchise, yang produknya sudah mempunyai standar kualitas yang sama pada setiap outletnya. Bisnis Wisata hampir mirip sebuah proyek dalam hal menemukan keunikan/ karakteristik pada tempat/ lokasi yang berbeda.

Umumnya keunikan/ karakteristik tersebut diolah menjadi barang dagangan menarik dari sebuah produk wisata. Keunikan/ kharakteristik lalu dijadikan Pengelola obyek wisata sebagai keunggulan yang dimiliki.

Jika demikian begitu, sudah seharusnya tidak ada obyek wisata yang sepi pengunjung?

.

Letak perbedaan adalah pada Manajemen yang mencakup pemasaran dan operasional. Pada umumnya agrowisata baru, hasil dari diversifikasi usaha bidang perkebunan, terkendala masalah manajemen operasional. Sebagai salah satu contoh adalah dalam hal merubah “mindset”pekerja perkebunan menjadi pekerja perkebunan + pekerja pariwisata. Beberapa contoh diantaranya adalah; hostility, pengaturan jadwal hari libur dan menciptakan iklim lingkungan penduduk yang kondusif bagi iklim kepariwisataan.

Berbeda dengan bidang usaha lainnya, justru pada hari Libur Nasional & Sabtu/ Minggu, semua karyawan obyek wisata harus masuk kerja. Sebagai gantinya, mereka hanya dapat libur pada hari kerja. Jadi kerja Hari Minggu bukan dihitung kerja lembur, kecuali Hari Libur Nasional kecuali bila tidak ingin hari tersebut di ganti pada hari kerja. Masalah lain yang dihadapi pengelola agrowisata adalah lamanya izin birokrasi untuk mendapat persetujuan pembangunan fasilitas baru di perkebunan milik pemerintah. Sehingga agrowisata tersebut sulit mengikuti dengan cepat trend wisata.

Fenomoena Wisata Agro, Kuliner dan Outbound

Rekreasi bukan lagi menjadi barang lux. Kesadaran tentang pentingnya rekreasi sebagai relaxasi kejenuhan dari rutinitas kerja, sudah memasyarakat. Hal ini bisa terlihat dari peningkatan jumlah obyek wisata dan kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun.

Seiring dengan peningkatan tersebut, masyarakat juga semakin selektif dalam memilih obyek wisata. Lalu, untuk mempermudah masyarakat dalam menentukan pilihannya, wisata digolongkan menjadi jenis wisata alam, sejarah, religi, belanja, kuliner, industri dan lain-lain.

Globalisasi menjadikan para konsumen produk wisata menjadi feminim. Wisata alam sekarangpun dituntut bukan hanya mampu menghadirkan keindahan alam, tetapi juga mampu bernilai edukatif dengan melibatkan petualangan alam atau tantangan.

Walaupun telah dibuktikan secara medis makanan dapat menurunkan stress, kemunculan wisata kuliner merupakan suatu fenomena tersendiri. Disadari atau tidak, mereka yang memanjakan cita rasa, meng-claim bahwa sensasi petualangan wisata kuliner, tidak kalah dibanding jenis wisata lainnya. Bahkan, para kulinerer , julukan pecinta wisata kuliner, mampu memetakan obyek wisata kuliner layaknya para pendaki gunung mampu mengingat pos-pos pemberhentian yang mereka lewati.

Reinkarnasi ”Taman Buah Mekarsari” tahun 2001 di Jawa Barat merupakan Milestone wisata agro yang bernilai edukatif. Tidak ada gunung, tidak ada pantai, namun di Taman Buah Mekarsari wisatawan bukan hanya diajak berkeliling mengenal berbagai pohon buah, tetapi juga dapat memetik buah tersebut langsung dari pohonnya. Dagangan alam yang ditawarkan Taman Buah Mekarsari tersebut laku keras.

Sementara itu Tahun 1994-an di Jakarta, berkembang pendidikan para calon eksekutif yang melibatkan kegiatan semi kemiliteran dalam pembentukan karakter kepemimpinan. Kegiatan tersebut dikenal dengan ”Out Bound” . Keberhasilan kegiatan Out Bound dalam pembentukan karakter kepribadian positif, menyebabkan Out Bound tetap eksis dan populer sampai saat ini.

Pada tahun 1999 di Kendal, berawal dari tempat kolam renang, ”Taman Rekreasi Tirto Arum Baru” , berusaha menjadi tempat wisata yang terlengkap di Jawa Tengah. Jika di Jawa Barat kisah keberhasilan Taman Buah Mekarsari diikuti oleh Agrowisata Pasir Mukti dan Perkebunan Teh Gunung Mas Puncak , di Jawa Tengah Agrowisata Tirto Arum Baru diikuti Agrowisata Tlogo, Banaran, Pagilaran, Umbul Sidomukti dan Sondokoro .

Maraknya diversifikasi bidang usaha perkebunan ke agrowisata di sekitar tahun 2003, punya cerita tersendiri. Lelah hanya menjadi saksi suksesnya event wisata agro dan persoalan keterpurukan harga beberapa komoditi perkebunan, perusahaan perkebunan bangkit untuk menjadi Tuan di tanahnya sendiri.

Perkebunan Teh Gunung Mas di Puncak Jawa Barat adalah contoh sukses diversikasi bidang usaha perkebunan negara ke agrowisata. Diversifikasi ke bidang usaha agrowisata Perkebunan Teh Gunung Mas bukan hanya cespleng mampu menutup defisit pada saat harga komoditi hasil perkebunan jatuh, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian penduduk sekitar.

Sejak itu, Pemerintah memberikan perhatian khusus dengan memberikan perizinan area perkebunan negara untuk dijadikan agrowisata dan menyerahkan tanggung jawab pengelolaannya kepada Departemen Pertanian.

Dari banyak perusahaan perkebunan yang melakukan diversifikasi, hanya beberapa yang sukses, sedangkan lainnya masih banyak yang terkendala masalah sulitnya merubah ”Mindset” perusahaan perkebunan ke pariwisata.

Hal yang dijelaskan diatas hanya sebagai ilustrasi bahwa bisnis wisata agro, memiliki prospek masa depan yang cerah. Kerinduan suasana pedesaan akan meningkat seiring dengan semakin langkanya alam yang asri. Dipastikan, dengan mengabungkan wisata agro, kuliner dan out bound yang bernilai science akan menjadi akan menjadi satu paket wisata yang menarik di masa kini dan mendatang..