bisnis online

Sabtu, 24 April 2010

Fantasy Beach - Tempat Wisata Terpadu di Kalimantan

Ini akan menjadi yang Spektakuler di Kalimantan. Sebuah tempat wisata terpadu akan segera dibangun. Tempat rekreasi "Fantasy Beach", di Palangkaraya, Kalimantan Tengah akan segera mempercantik diri dengan menambah fasilitas sarana dan prasarana penunjang untuk menjadikannya yang terbesar dan terbaik di Kalimantan.

Keberadaan danau dengan pasir putih di tengah rindangnya pepohonan menjadi acuan pembuatan master design pengembangan rekreasi "Fantasy Beach". Water Boom, Bungalow, Tempat Pemancingan, Gedung Pertemuan, Panggung Konser, dan Wahana Outbound akan dibangun di tempat ini.

Kamis, 22 April 2010

Kampung Main Cipulir - Oase Wisata Baru di Jakarta Selatan

Petualangan alam bernuansa Outbound berlokasi di daerah perkotaan adalah nilai jual yang ditawarkan "Kampung Main Cipulir (KMC)". Berlokasi di lingkungan padat penduduk, kehadiran KMC diharapkan mampu menyediakan kebutuhan petualangan Outbound, wisata kuliner untuk group sekolah, umum maupun untuk perusahaan.

Dengan kemudahan akses ke KMC (hanya 20 menit dari Mall Pondok Indah), Penduduk Jakarta tidak perlu lagi membuang waktu, tenaga dan biaya yang besar untuk memanjakan kegiatan refreshing.

Dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektar berbagai permainan alam ditawarkan. Dari mulai Flying Fox, Perahu rakit, Permainan Polo Lumpur, lintasan berbagai macam permainan tantangan alam tersedia. Tersedia pula Taman Refleksi dan gubug - gubug lesehan untuk berbagai macam keperluan berwisata kuliner dengan menu Kampung ala "Kampung Main Cipulir".

Alamat: Jl. Masjid Cidodol gg H. Sairi No. 1A Grogol Selatan Kebayoran Lama, Jak-Sel. Tlp. 021-7202868/ 081908953419

Berita Terkait : "Harga Tiket Kampung Main Cipulir", Peta Kampung Main Cipulir



Kamis, 23 Juli 2009

Evaluasi Mahalnya Produk Wisata

Berikut adalah Ilustrasi atas keluhan masyarakat Kendal atas mahalnya produk Agrowisata Tirto Arum Baru, Kendal, padahal mereka telah merasa ikut membesarkannya dan dikenal seperti sekarang ini.

Adilkah suatu produk wisata mahal bagi warga yang berada di sekitar lokasi obyek wisata tersebut? Jawabannya, menurut saya adalah relatif.

Apakah yang menikmati wisata yang ada di Bali terbesar berasal dari lokal penduduk Bali? Kalau murah tentunya wisatawan lokalah yang banyak menikmati keindahan alam - budaya Bali di hotel berbintang dan cafe2, bukan wisatawan luar daerah Bali atau mancanegara. Bukan begitu?

Yang jelas kegiatan pariwisata di Bali menarik bagi wisatawan mancanegara menimbulkan mutiplayer effects bagi geliat kegiatan ekonomi masyarakat lokal Bali. Terbukanya lowongan kerja, atau menjadi pemasok kebutuhan akomodasi catering, cindera mata, rental kendaraan, hanyalah sebagian kecil dari peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan penduduk lokal dari keberadaan suatu obyek wisata.

Idealnya memang begitu, penduduk lokal dapat bersinergi - menjalin kemitraan dengan obyek wisata lebih hanya sekedar penikmat produk wisata itu sendiri. Di salah satu pihak obyek wisata membutuhkan tenaga kerja, bahan makanan dan iklim "hospitality" dari masyarakat lokal, di pihak lain masyarakat lokal perlu tambahan income untuk memperbaiki keadaan ekonominya.

Belum lagi dampak politisnya, bila obyek wisata itu lebih dikenal daripada daerah tempat obyek wisata berada. Seperti contohnya bagi TKI, ekspat, pelajar indonesia di luar negeri dll, lebih mudah untuk menerangkan kepada orang asing tentang Indonesia bagi mereka yang telah mengenal Bali sebelumnya.

Dengan kebijakan Otonomi Daerah, semua obyek wisata yang dimiliki PemDa maupun Swasta saling berlomba menarik uang dari luar daerah dan berharap menghasilkan multiplayer effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Seperti Jogja dan Solo yang berkembang ekonominya dengan keratonnya, atau Magelang dengan Borobudurnya.

Walaupun begitu, saya yakin masyarakat lokal bila terkoordinir dengan baik, pengelola obyek wisata akan memberikan harga khusus - pengecualian, bagi warga masyarakat dimana obyek wisata itu berada.

Kamis, 16 Juli 2009

"Pleisure" yang versus Bisnis Wisata

Tingkat hunian hotel lebih dari 150% perhari ?!!@# Sebuah fenomena bisnis keberhasilan akomodasi penginapan di kawasan wisata berhawa dingin di daerah bandungan Kabupaten Semarang.


Berhasil ??? Relatif. Itulah hasil studi banding kita ketika kami dari PHRI

Rabu, 27 Mei 2009

Flying Fox - Primadona Outbound


Kini hampir semua obyek wisata outbound hampir memiliki Flying Fox (Rubah Terbang) yaitu permainan meluncur - terbang melayang, seperti layaknya pahlawan lagendaris Zoro atau Superman pada sebuah kawat baja. Keberadaan Flying Fox boleh dikatakan hampir bisa diidentikan dengan outbound.

Ketika Tirto Arum Baru, Kendal memulai untuk pertama kalinya di tahun 2004 di Jawa Tengah (pemasangan perangkat flying fox secara permanen) , jenis permainan ini banyak menarik minat banyak pengunjung. Peliputan pemberitaan media masa ketika itu ikut andil dalam memasarkan Flying Fox di Tirto Arum Baru. "Click Berita terkait!"

Dalam Bisnis Agrowisata, copy paste (mengadopsi) suatu wahana permainanan yang berprospek sering terjadi. Seperti halnya sukses Jalan Pijat Refleksi yang dibangun tahun 1999 di Tirto Arum banyak ditiru obyek wisata lainnya.

Namun amat disayangkan, dalam mengadopsi wahana dan permainan baru, strategi untuk membuat nilai tambah dan unik sering dilupakan - "Tidak hanya hadir dan sebagai pelengkap yang sudah ada"

Begitu pula Flying Fox. Sedari awal Flying Fox di Tirto Arum tahun 2004 dibuat unik dan bernilai tambah yaitu dengan titik start dari atas "Pohon Kelapa" dan terbang melayang di atas sungai buatan. Andrenalin akan terpacu saat naik ke atas pohon kelapa dengan tangga pancal dan mencapai bordes start di atas pohon kelapa.

Di Umbul Sidomukti lain lagi. Nilai tambah flying fox di Umbul Sidomukti, Gunung Ungaran ialah lintasan di ketinggian 75 meter, diatas jurang yang menjadi flying fox tertinggi di Jawa Tengah. Tentunya keunikan tersebut harus dibuat sesuai dengan karakteristik lansdcape, utamanya segmen pasar yang dituju: anak2, remaja, dewasa atau orang tua.

Lain lagi dengan Flying Fox di Owabong, Purbalingga. Akhir finish Flying Fox di Owabong berada di kolam renang dengan pemberhentian menabrak bantalan plampung. Dengan sedikit nekat kita bisa merasakan sensasi mendarat dengan posisi kepala di dalam air dalam keadaan badan terbalik.

Mengadopsi wahana/ permainan dengan nilai tambah dan unik adalah bernilai positif, apalagi membuat sesuatu yang baru. Seperti Umbul Sidomukti, setelah membangun 1.Kolam Renang Buatan tertinggi dari permukan laut se-Indonesia, 2.Lintasan Flying Fox dan Marine Brigde diatas jurang dengan ketinggian 75 m, 3.Kini tengah berencana membuat Boongie Jumping dengan ketinggian yang sama.

Jumat, 01 Mei 2009

Bisnis Agrowisata versus Rokok

Mungkin kalau PERDA larangan merokok diberlakukan di tempat-tempat umum dengan tegas diberlakukan, orang pertama yang takut masuk ke Indonesia adalah orang berkebangsaan "Maroko". Pasalnya banyak pengumuman DILARANG MAROKO" – "DILARANG MAROKO” ada dimana-mana.

Jauh sebelum Fatwa MUI 2009 tentang “Merokok itu Haram”, 1999 ketika peralihan manajemen di Tirto Arum, peraturan larangan merokok sudah diberlakukan baik untuk karyawan lama maupun dalam seleksi penerimaan karyawan baru. Hal tersebut beralasan karena tema Bisnis Agrowisata yang mengusung pendidikan dan hidup sehat dengan back to naturenya sangatlah bertolak belakang dengan kebiasaan merokok.

Bayangkan bila anak anda ketika sedang menunggu antrean flying fox melihat operatornya bekerja sambil merokok. Atau pramusaji di restaurant merokok di jam istirahat mereka. Walaupun ayah si anak mungkin perokok dan tidak menginginkan anaknya jadi perokok, dengan melihat pekerja agrowisata merokok si anak akan berpendapat merokok itu tidak seberbahayanya seperti kampanye anti rokok yang ia sering dengar.

Rokok pernah menjadi soulmate saya puluhan tahun. Saya akui sulit menghentikan kebiasaan merokok dan saya dapat berargumen mati-matian pada siapa saja yang menghentikan kebiasaan saya merokok.

Akibatnya banyak dari karyawan saya saat interview mengaku tidak merokok, ternyata mereka kedapatan merokok. Untuk kasus tersebut, saya berlakukan sistem "denda" bagi siapa saja yang ketahuan merokok dan yang tahu tapi tidak melaporkannya. Sebaliknya bagi karyawan/ istri/ anak yang melaporkan dapat bagian dari denda tersebut, dan sisanya dimasukkan dalam kas kesejahteraan karyawan.

Bagi saya perokok merupakan pahlawan karena: 1. Mengorbankan kesehatan dirinya untuk orang lain dengan memberikan kontribusinya ke negara dari sektor pajak, 2. Memperluas tenaga kerja dalam industri rokok dan perkebunan tembakau.

Merokok adalah hak setiap orang, rokok dijual di Tirto Arum, tetapi tidak untuk karyawan Tirto Arum karena karyawan di Tirto Arum adalah aset perusahaan. Bukan saja perusahan akan rugi kalau karyawannya sakit tetapi juga budget untuk membeli rokok akan amat sangat-sangat berguna bila dipakai untuk kesejahteraan mereka sendiri.

Jumat, 17 April 2009

Asosiasi Profesi - Kunci Inggris Sukses Bisnis Agrowisata

Click gambar diatas!!
Tanpa maksud & tujuan tertentu, gambar dengan linknya diatas hanya sebagi ilustrasi manfaat bisnis wisata bila kita bergabung dengan asosiasi. Pemberitaan yang juga diliput oleh Seputar Indonesianya RCTI dan beberapa surat kabar lainnya tersebut memberikan gambaran bahwa dengan bergabung kita dapat lebih kuat menyuarakan aspirasi para pengusaha bisnis wisata.

Kalau begini saya jadi tersenyum, bila ada kawan yang terlambat, apalagi tidak hadir karena alasan sibuk dsb bila ada rapat asosiasi. Apalagi tidak menjadi anggota. Menjadi anggota Asosiasi Agro Indonesia (AWAI), Perhimpunan Hotel dan Restaurant (PHRI), Paguyuban Pelaku Wisata (PPW) dsb yang dirasakan sangat besar manfaatnya bagi Tirto Arum.

Kenapa tidak, dengan bergabungnya kita dengan asosiasi bisnis wisata selain dapat menambah wawasan bagi kemajuan bisnis, juga sebagai wadah untuk menjalin kemitraan dengan pemerintah. Win to Win, Pengusaha bisnis wisata mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah begitu pula pemerintah diuntungkan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.

Melalui wadah asosiasi profesi kita dapat memberi aspirasi di saat pemerintah menentukan suatu kebijakan menyangkut berbagai masalah terkait dalam bisnis wisata misalnya penyusunan rencana induk pariwisata, masalah perpajakan, perizinan, dsb.

Melalui asosiasi pula kita dapat membangun jejaring bisnis wisata. Bukankah setiap obyek wisata mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga memungkinkan untuk dapat disatukan menjadi paket wisata One Day Tour?!

"Pameran Bersama" adalah salah satu bentuk kerjasama untuk memajukan sektor kepariwisataan dalam skup daerah yang lebih luas semisal Jawa - Tengah. Bila kemitraan Pemerintah dan Pengusaha Bisnis Wisata telah erat, bukan tidak mungkin peningkatan SDM dan kegiatan promosi kepariwisataan dijadikan program kerja pemerintah untuk dapat difasilitasi.