bisnis online
Tampilkan postingan dengan label rekor muri outbound. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekor muri outbound. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2009

Rekor Muri & Strategi Marketing Wisata

Pencapaian "Rekor Muri" di Bidang Penyelenggaraan Pendukung Outbound dengan Jumlah Kegiatan Terbanyak, “Dji Samsu Award” sebagai 234 UKM terseleksi versi Perusahaan Rokok Dji Samsu dan Koran Tempo dan kenaikan peringkat “Piring Emas” atas Layanan Restonya dari Dinas Pariwisata Prov. JATENG pada tahun 2007 merupakan prestasi bagi Agrowisata Tirto Arum Baru yang berlokasi di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Pencapaian tersebut bukan tanpa upaya. Usaha marketing sudah diupayakan sejak manajemen baru mengambil alih pengelolaan di tahun 1999. Yakni dengan menambah brand “Baru” terhadap Tirto Arum, mampu merubah image masyarakat bahwa Tirto Arum yang dulu sudah sama sekali berubah.

Di lahan yang hanya 3 ha, manajemen baru berusaha dapat mengoptimalkan setiap jengkal tanahnya produktif dan menghasilkan pendapatan. Berbeda dengan obyek wisata yang muncul dan langsung mencurahkan segala ide dan modalnya, Tirto Arum muncul dengan mencicil ide2nya dan mengakomodir perubahan market demand seiring perjalanan waktu.

"Mencicil ide dan Market Demand adalah sebuah strategi marketing". Bayangkan jika sebuah Fabrikan Mobil Toyota mengeluarkan model terakhir yang dapat bertahan 10 tahun. Awalnya memang penjualan meningkat, tapi kemudian mereka akan bosan dan berakibat penurunan penjualan. Lain halnya bila perubahan pada model dilakukan bertahap misalnya tahun 1 pada model lampu, tahun ke 2 pada dashboard, tahun ke tiga pada mesin dan seterusnya.

Maka tidak heran banyak kita temui obyek wisata yang ramai pada awalnya tapi sepi ditahun-tahun berikutnya karena wisatawan bosan tidak ada pembaharuan wahana permainan/ fasilitas baru. Di kasus ini pihak Pengelolapun tidak berinovasi karena sudah kehabisan ide dan napas (modal) akibat terlalu bersemangat.


Bisnis Wisata bukan Franchise

Bisnis Wisata tepatnya bisnis agrowisata bukan seperti franchise, yang produknya sudah mempunyai standar kualitas yang sama pada setiap outletnya. Bisnis Wisata hampir mirip sebuah proyek dalam hal menemukan keunikan/ karakteristik pada tempat/ lokasi yang berbeda.

Umumnya keunikan/ karakteristik tersebut diolah menjadi barang dagangan menarik dari sebuah produk wisata. Keunikan/ kharakteristik lalu dijadikan Pengelola obyek wisata sebagai keunggulan yang dimiliki.

Jika demikian begitu, sudah seharusnya tidak ada obyek wisata yang sepi pengunjung?

.

Letak perbedaan adalah pada Manajemen yang mencakup pemasaran dan operasional. Pada umumnya agrowisata baru, hasil dari diversifikasi usaha bidang perkebunan, terkendala masalah manajemen operasional. Sebagai salah satu contoh adalah dalam hal merubah “mindset”pekerja perkebunan menjadi pekerja perkebunan + pekerja pariwisata. Beberapa contoh diantaranya adalah; hostility, pengaturan jadwal hari libur dan menciptakan iklim lingkungan penduduk yang kondusif bagi iklim kepariwisataan.

Berbeda dengan bidang usaha lainnya, justru pada hari Libur Nasional & Sabtu/ Minggu, semua karyawan obyek wisata harus masuk kerja. Sebagai gantinya, mereka hanya dapat libur pada hari kerja. Jadi kerja Hari Minggu bukan dihitung kerja lembur, kecuali Hari Libur Nasional kecuali bila tidak ingin hari tersebut di ganti pada hari kerja. Masalah lain yang dihadapi pengelola agrowisata adalah lamanya izin birokrasi untuk mendapat persetujuan pembangunan fasilitas baru di perkebunan milik pemerintah. Sehingga agrowisata tersebut sulit mengikuti dengan cepat trend wisata.