INFO POPULER
Rabu, 27 Mei 2009
Jumat, 01 Mei 2009
Bisnis Agrowisata versus Rokok
Jauh sebelum Fatwa MUI 2009 tentang “Merokok itu Haram”, 1999 ketika peralihan manajemen di Tirto Arum, peraturan larangan merokok sudah diberlakukan baik untuk karyawan lama maupun dalam seleksi penerimaan karyawan baru. Hal tersebut beralasan karena tema Bisnis Agrowisata yang mengusung pendidikan dan hidup sehat dengan back to naturenya sangatlah bertolak belakang dengan kebiasaan merokok.
Bayangkan bila anak anda ketika sedang menunggu antrean flying fox melihat operatornya bekerja sambil merokok. Atau pramusaji di restaurant merokok di jam istirahat mereka. Walaupun ayah si anak mungkin perokok dan tidak menginginkan anaknya jadi perokok, dengan melihat pekerja agrowisata merokok si anak akan berpendapat merokok itu tidak seberbahayanya seperti kampanye anti rokok yang ia sering dengar.
Rokok pernah menjadi soulmate saya puluhan tahun. Saya akui sulit menghentikan kebiasaan merokok dan saya dapat berargumen mati-matian pada siapa saja yang menghentikan kebiasaan saya merokok.
Akibatnya banyak dari karyawan saya saat interview mengaku tidak merokok, ternyata mereka kedapatan merokok. Untuk kasus tersebut, saya berlakukan sistem "denda" bagi siapa saja yang ketahuan merokok dan yang tahu tapi tidak melaporkannya. Sebaliknya bagi karyawan/ istri/ anak yang melaporkan dapat bagian dari denda tersebut, dan sisanya dimasukkan dalam kas kesejahteraan karyawan.
Bagi saya perokok merupakan pahlawan karena: 1. Mengorbankan kesehatan dirinya untuk orang lain dengan memberikan kontribusinya ke negara dari sektor pajak, 2. Memperluas tenaga kerja dalam industri rokok dan perkebunan tembakau.
Merokok adalah hak setiap orang, rokok dijual di Tirto Arum, tetapi tidak untuk karyawan Tirto Arum karena karyawan di Tirto Arum adalah aset perusahaan. Bukan saja perusahan akan rugi kalau karyawannya sakit tetapi juga budget untuk membeli rokok akan amat sangat-sangat berguna bila dipakai untuk kesejahteraan mereka sendiri.
Jumat, 17 April 2009
Asosiasi Profesi - Kunci Inggris Sukses Bisnis Agrowisata
Kalau begini saya jadi tersenyum, bila ada kawan yang terlambat, apalagi tidak hadir karena alasan sibuk dsb bila ada rapat asosiasi. Apalagi tidak menjadi anggota. Menjadi anggota Asosiasi Agro Indonesia (AWAI), Perhimpunan Hotel dan Restaurant (PHRI), Paguyuban Pelaku Wisata (PPW) dsb yang dirasakan sangat besar manfaatnya bagi Tirto Arum.
Kenapa tidak, dengan bergabungnya kita dengan asosiasi bisnis wisata selain dapat menambah wawasan bagi kemajuan bisnis, juga sebagai wadah untuk menjalin kemitraan dengan pemerintah. Win to Win, Pengusaha bisnis wisata mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah begitu pula pemerintah diuntungkan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.
Melalui wadah asosiasi profesi kita dapat memberi aspirasi di saat pemerintah menentukan suatu kebijakan menyangkut berbagai masalah terkait dalam bisnis wisata misalnya penyusunan rencana induk pariwisata, masalah perpajakan, perizinan, dsb.
Melalui asosiasi pula kita dapat membangun jejaring bisnis wisata. Bukankah setiap obyek wisata mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga memungkinkan untuk dapat disatukan menjadi paket wisata One Day Tour?!
"Pameran Bersama" adalah salah satu bentuk kerjasama untuk memajukan sektor kepariwisataan dalam skup daerah yang lebih luas semisal Jawa - Tengah. Bila kemitraan Pemerintah dan Pengusaha Bisnis Wisata telah erat, bukan tidak mungkin peningkatan SDM dan kegiatan promosi kepariwisataan dijadikan program kerja pemerintah untuk dapat difasilitasi.
Diposting oleh Djarot Sujadi di 16.16
Label: agrowisata tirto arum baru, asosiasi wisata komentar (0)
Minggu, 12 April 2009
Joglo Hill - Bisnis Penyewaan Rumah Joglo
Menginap di Rumah traditional yang sudah berumur ratusan tahun adalah produk primadona Joglo Hills. Berawal dari sekedar hobby Ibu Heny, pemilik Agrowisata Villa Joglo Hill, mempunyai ide untuk menyewakan propertinya bagi turis asing yang haus tentang pengalaman budaya etnik.
Joglo Hill, didukung dengan landscape daerah persawahan dan jalan lingkungan yang bukan hanya tertata apik tetapi juga mempunyai "Nilai Tambah" karena disamping kiri-kanan jalan lingkungannya terdapat artifak kuno.
Keberadaan kolam renang, musium keramik dan bangunan fasiltas dibuat sedemikian rupa agar tampak menyatu dengan tema nuansa kehidupan masa lalu dari Joglo Hill. Pemerintah cukup diuntungkan dengan adanya pihak swasta yang memelihara kekayaan warisan budaya ini.
Umbul Sidomukti
Pusat aktifitas Umbul Sidomukti dan fasilitasnya ditempatkan di lokasi yang mampu menggelar pemandangan yang mempesonakan. Dalam pembangunanya, perbedaan elevasi tanah dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan tersebut.
Keberadaan Kolam renang buatan dengan dari air alamnya di Umbul Sidomukti bernilai strategis karena akan menjadi yang tertinggi di Indonesia.Ide pembangunan kolam renang itu sendiri didasarkan pada banyaknya air alam yang mengalir. Cukup banyaknya sehingga dapat dikumpulkan lalu dikeluarkan kembali untuk menjadi maskot Umbul Sidomukti. Untuk membuatnya lebih alami, kolam renang di Umbul Sidomukti, dinding kolamnya dibuat dari bebatuan alam.
Sering terjadi dan merupakan kesalahan yang sering dilakukan para pengusaha pengembang obyek wisata melakukan copy-paste jenis wahana atau permainan yang sukses di obyek wisata lain. Padahal jenis wahana atau permainan itu belum tentu cocok dikembangkan di daerah tersebut.
Rekor Muri & Strategi Marketing Wisata
Pencapaian tersebut bukan tanpa upaya. Usaha marketing sudah diupayakan sejak manajemen baru mengambil alih pengelolaan di tahun 1999. Yakni dengan menambah brand “Baru” terhadap Tirto Arum, mampu merubah image masyarakat bahwa Tirto Arum yang dulu sudah sama sekali berubah.
Di lahan yang hanya 3 ha, manajemen baru berusaha dapat mengoptimalkan setiap jengkal tanahnya produktif dan menghasilkan pendapatan. Berbeda dengan obyek wisata yang muncul dan langsung mencurahkan segala ide dan modalnya, Tirto Arum muncul dengan mencicil ide2nya dan mengakomodir perubahan market demand seiring perjalanan waktu.
"Mencicil ide dan Market Demand adalah sebuah strategi marketing". Bayangkan jika sebuah Fabrikan Mobil Toyota mengeluarkan model terakhir yang dapat bertahan 10 tahun. Awalnya memang penjualan meningkat, tapi kemudian mereka akan bosan dan berakibat penurunan penjualan. Lain halnya bila perubahan pada model dilakukan bertahap misalnya tahun 1 pada model lampu, tahun ke 2 pada dashboard, tahun ke tiga pada mesin dan seterusnya.
Maka tidak heran banyak kita temui obyek wisata yang ramai pada awalnya tapi sepi ditahun-tahun berikutnya karena wisatawan bosan tidak ada pembaharuan wahana permainan/ fasilitas baru. Di kasus ini pihak Pengelolapun tidak berinovasi karena sudah kehabisan ide dan napas (modal) akibat terlalu bersemangat.
Bisnis Wisata bukan Franchise
Umumnya keunikan/ karakteristik tersebut diolah menjadi barang dagangan menarik dari sebuah produk wisata. Keunikan/ kharakteristik lalu dijadikan Pengelola obyek wisata sebagai keunggulan yang dimiliki.
Jika demikian begitu, sudah seharusnya tidak ada obyek wisata yang sepi pengunjung?
.
Letak perbedaan adalah pada Manajemen yang mencakup pemasaran dan operasional. Pada umumnya agrowisata baru, hasil dari diversifikasi usaha bidang perkebunan, terkendala masalah manajemen operasional. Sebagai salah satu contoh adalah dalam hal merubah “mindset”pekerja perkebunan menjadi pekerja perkebunan + pekerja pariwisata. Beberapa contoh diantaranya adalah; hostility, pengaturan jadwal hari libur dan menciptakan iklim lingkungan penduduk yang kondusif bagi iklim kepariwisataan.
Berbeda dengan bidang usaha lainnya, justru pada hari Libur Nasional & Sabtu/ Minggu, semua karyawan obyek wisata harus masuk kerja. Sebagai gantinya, mereka hanya dapat libur pada hari kerja. Jadi kerja Hari Minggu bukan dihitung kerja lembur, kecuali Hari Libur Nasional kecuali bila tidak ingin hari tersebut di ganti pada hari kerja. Masalah lain yang dihadapi pengelola agrowisata adalah lamanya izin birokrasi untuk mendapat persetujuan pembangunan fasilitas baru di perkebunan milik pemerintah. Sehingga agrowisata tersebut sulit mengikuti dengan cepat trend wisata.
Diposting oleh Djarot Sujadi di 23.38
Label: agrowisata tirto arum baru, rekor muri outbound komentar (1)





